014 - Modal Untuk Kembali Menang

Modal Untuk Kembali Menang, (Berhubung Isu Palestin)

Di saat manusia gawat dan kecewa serta berduka di atas peristiwa yang berlaku di Palestin. muncul ulama'-ulama' Rabbani, mereka mula memberi taujih dan perintah kepada semua umat islam di atas apa yang mereka perlu lakukan. Sedangkan nasihat mereka telah lama diberikan, namun kerana kejahilan sebahagian kaum muslimin, umat ini terhalang dari mendengar nasihat mereka kerana kedengkian dan sifat mereka yang tergopoh-gapah mendapatkan kemenangan dengan cara mereka yang bertentangan dengan syariat. Di sini kami paparkan beberapa untaian nasihat dari Masyaikh untuk dijadikan panduan dan sama-sama kita muhasabah kembali, apa yang perlu kita lakukan.

Syaikh ‘Abdullah Al ‘Ubailan ditanya:

Apa tanggapan Anda terhadap peperangan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, lalu apa fatwa dan penjelasan mengenai hal ini?

Syaikh hafizhohullah menjawab:

Bismillahir rahmanir rohim

Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan pada-Nya, kami memohon ampunan dari-Nya dan kami pun bertaubat kepada-Nya. Kami meminta perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri kami dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada seorang pun yang bisa memberi petunjuk padanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling jujur adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama). Setiap perkara yang diada-adakan dalam agama itulah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Sebelum menjelaskan perkataan ulama mengenai hal ini, saya terlebih dahulu menyebutkan perkataan para ulama Ahlus Sunnah di zaman ini. Di antara ulama-ulama tersebut adalah: Yang mulia Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz, pakar hadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, pakar fikih abad ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, peneliti handal Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alusy Syaikh, dan di antaranya lagi adalah Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, juga ulama-ulama lainnya yang mengikuti jalan hidup mereka dengan meniti syariat ini. Para ulama inilah yang senantiasa menolong kaum muslimin saat ini bahkan di setiap masa. Setelah itu, aku katakan –dengan taufik Allah-:

Perlu diketahui bahwa Al Qur’an telah memberi petunjuk kepada kita untuk menyelesaikan tiga masalah, di mana dengan penjelasan Al Qur’an akan menyelamatkan berbagai negeri Islam.

Masalah Pertama:

Kelemahan kaum muslimin di setiap penjuru dunia dari sisi jumlah dibanding orang kafir. Sungguh, Al Qur’an telah memberi petunjuk pada kita untuk menyelesaikan masalah ini dengan solusi yang paling bagus dan adil. Al Qur’an telah menjelaskan bahwa untuk menyembuhkan penyakit lemahnya kaum muslimin dari orang kafir adalah dengan penuh kesungguhan menghadap Allah, dengan menguatkan keimanan, dan bertawakkal pada-Nya karena Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, dan Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Siapa saja yang beriman dengan sebenar-benarnya, maka tidaklah mungkin orang-orang kafir mengalahkannya walaupun mereka (orang kafir) menang dalam hal kekuatan dari kaum muslimin.

Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

Di perang Ahzab, orang-orang kafir memerangi kaum muslimin dan pada saat itu kaum muslimin sudah dalam keadaan terkepung dengan pasukan orang kafir yang sangat besar, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (11(

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (QS. al-Ahzab 33:10-11)

Lihatlah kondisi perang ketika itu. Kaum muslimin sudah dikepung oleh pasukan orang kafir yang sangat banyak dan begitu kuat. Seluruh manusia saat ini pasti sudah kehilangan strategi. Jadi yang patut engkau tahu bahwa solusi ketika menghadapi masalah yang sulit semacam ini telah Allah Ta’ala jelaskan dalam surat Al Ahzab pada firman-Nya,

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. al-Ahzab 33:22)

Jadi, dengan keimanan yang sempurna dan ketundukan yang sebenar-benarnya kepada Allah Ta’ala, juga kuat dalam tawakkal, itulah sebab untuk menyelesaikan masalah yang sulit ini.

Allah sendiri telah menegaskan mengenai hasil dari penyembuhan seperti ini (yaitu karena adanya keimanan yang kokoh, -pen) dalam firman-Nya,

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25) وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (26) وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab 33:25-27)

Begitulah pertolongan Allah terhadap musuh-musuh kaum muslimin. Mereka tidak menyangka bahwa yang menolong mereka adalah (para tentera dari) malaikat dan juga ditolong melalui angin (taufan). Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentera-tentera, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ahzab 33:9)

Begitu pula Allah Ta’ala mengetahui keikhlasan yang sempurna dari orang-orang yang melakukan Bai’atur Ridwan, sebagaimana dalam firman-Nya,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.” (QS. al-Fath 48:18).

Yang dimaksudkan dengan ‘apa yang dalam hati mereka’ adalah keimanan dan keikhlasan. Karena keimanan dan keikhlasan inilah menghasilkan buah sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

“Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Fath 48:21).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menegaskan bahwa kaum muslimin belum dapat menaklukan negeri-negeri lainnya, namun Allah-lah yang menetapkan sehingga mereka pun mampu menguasai negeri-negeri tersebut. Itulah buah dari kuatnya iman dan ikhlas.

Ayat tadi menjelaskan bahwa ikhlas yang murni kepada Allah dan kuatnya keimanan adalah sebab kaum yang lemah bisa mengalahkan kaum yang jauh lebih kuat. Itulah yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah 2:249)

Masalah Kedua:

Mengapa orang kafir dapat mengalahkan orang-orang beriman dengan membunuh, melukai dan bentuk kerugian lainnya, padahal kaum muslimin berada di atas agama yang benar sedangkan mereka orang kafir berada dalam kebatilan?

Masalah seperti ini juga pernah dialami oleh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala sendiri menjelaskan masalah ini melalui wahyu dari langit yang senantiasa dibaca dalam Kitabullah (Al Qur’an).

Kejadian yang dialami sahabat adalah ketika berada di perang Uhud. Pada saat itu, pak cik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbunuh, begitu pula anak dari pak ciknya. Ketika itu pula beberapa kaum muhajirin terbunuh dan 70 kaum Anshor pun terbunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terluka, bibirnya koyak dan giginya (yaitu gigi yang terletak antara gigi seri dan gigi taring) patah, dan dahinya pun terluka.

Para sahabat ketika itu merasa hairan dengan kejadian ketika itu. Mereka berujar, “Bagaimana mungkin kaum musyrikin sekarang bisa mengalahkan kita, padahal kita berada di atas kebenaran sedangkan mereka berada dalam kebatilan?” Kemudian Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. ali-Imran 3:165)

Lihatlah bahwa Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Ali Imran: 165)

Ayat di atas masih global dan kesalahan mereka ini dijelaskan lagi dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu.” (QS. ali-Imran 3:152)

Inilah keterangan langsung dari langit, penjelasan yang sangat jelas bahwa sebab kemenangan orang kafir terhadap kaum muslimin adalah karena kelemahan kaum muslimin sendiri, perselisihan mereka dalam suatu urusan dan kedurhakaan mereka terhadap perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di antara mereka ada yang lebih mementingkan dunia daripada perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tidak samar lagi bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.

-bersambung insya Allah-

***

Oleh: Syaikh Abdullah Al ‘Ubailan hafizhohullah
Diterjemahkan oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
Sumber: http://www.islamancient.com/fatawa
Dinukil oleh Abu Hurairah al-Atsary dari Artikel
www.muslim.or.id

013 - Projek Melahirkan Generasi Al-Quran Seperti Nabi Dan Para Sahabat. -Siri 1-

Pengenalan Kepada al-Quran

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Hadits Riwayat Bukhari dalam shahihnya)

Seorang muslim panduan mereka adalah al-Quran. Sangat aneh jika ada muslim yang tidak mengenal al-Quran, andai kata mereka tidak kenal. Kami di sini ingin memperkenalkan. Andai kata ada yang bertanya, bagaimana kaum muslimin terdahulu Berjaya dengan al-Quran. Di sini kami menguraikan sebab-sebab nya InsyaAllah bi Iznillah. Andai ada yang ingin menjadi seperti generasi al-Quran, di sini kami susun cara dan gayanya.

Ini bukanlah satu projek yang memerlukan berjuta Ringgit untuk dilaksanakan. Bukan pula beribu dan beratus ringgit. Hanya perlu meluangkan beberapa minit untuk memerhatikan risalah yang kecil ini yang disusun bagi menerangkan dan membantu kefahaman kita bersama, tentang pentingnya kita memerhatikan al-Quran agar kita menjadi mulia di sisi Pencipta kita. Agar kita tahu apa yang diperintahkan kepada kita selaku hamba.

Hal itu tidak lain kita akan kita ketahuinya dengan cara kita memerhati dan mentadabburi al-Quran. Ana mulakan dari pengenalan al-Quran supaya kita lebih mengerti dengan detail tentang Kitab ini.

Apa itu al-Quran?
Berkata Ibnu Qudamah al-Maqdisi ketika membahas mengenai al-Quran di dalam Kitab Lum'atul I'tiqad :
"Al-Quran adalah kalamullah (perkataan Allah). Al-Quran merupakan kitab Allah yang jelas, memiliki ikatan yang kuat dengan-Nya, ia adalah (penunjuk) jalan-Nya yang lurus.

Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam, yang dibawa oleh Jibril yang terpercaya dan disampaikan kepada sang pemimpin rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab yang jelas, ia bukan makhluk (ciptaan Allah), dari Allah-lah ia datang. Dan kepada-Nyalah ia kembali.

Al-Quran berisi surat-surat yang jelas, ayat-ayat yag terang, begitu pula huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya. Barangsiapa yang membacanya, ia akan dapat menguraikan kalimat-kalimatnya, dan akan diberi sepuluh pahala di setiap hurufnya. Di dalam al-Quran terdapat bagian awal dan akhir, serta mengandung bagian dan unsur.

Al-Quran dibaca oleh banyak lisan, di hafal di dalam dada-dada. Didengar oleh banyak telinga dan tertulis di lembaran-lembaran. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas dan ayat-ayat yang samar, terdapat nasikh (ayat-ayat yang menghapus hukum) dan mansukh(ayat-ayat yang dihapus hukumnya), terdapat ayat-ayat yang khusus dan umum hukumnya, juga terdapat perintah dan larangan.

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.(QS. Fushshilat 41:41)

“Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. Al-Isra’ 17:88)"[1]

Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan berkata :
"Sesungguhnya nikmat terbesar, yang mana nikmat ini Allah memuliakan umat manusia ialah dengan diutusnya Muhammad dan diturunkan al-Quranul Karim kepada beliau dan menunjukkan umat manusia, membuka mata mereka dan mengingatkan kepada segala sesuatu yang bermanfaat bagi mereka baik di dunia dan akhirat."[2]

Al-Quran merupakan nikmat terbesar yang dimiliki oleh umat manusia. Masakan tidak? Dengan al-Quran mereka mengenal tuhan mereka. Mereka tidak perlu mengambil kayu, batu dan selainnya sebagai sembahan. Dengan al-Quran, mereka mengetahui bahawa Allah-lah pencipta dan ilah (yang berhak disembah) untuk mereka. Andai kata tidak diturunkan al-Quran, ataupun mereka tidak mengetahui nikmat ini, pastinya mereka akan merana di akhirat kelak. Hidup mereka dalam kesengsaraan.

Kerana mereka telah mensyirikkan Allah dan mereka akan menerima balasan akibat perbuatan mereka.

Dari mana ia datang?
Syaikh Muhammad Ibn Shalih Utsaimin ketika mensyarah Kitab Lum’atul I’tiqad, berkaitan dengan hal ini beliau menyertakan ayat Quran

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. al-Furqan 25:1)

Maka apabila kita telah mengetahui bahawa al-Quran dari Allah, Tuhan yang tidak Ilah selain-Nya. Tidak ada yang dapat menandingi-Nya, dan tidak ada yang dapat menyamai-Nya, hati kita pasti bergetar kerana kita merasa kekerdilan diri kita di hadapan Pencipta kita, Pengatur hidup kita, Dzat yang mematikan dan menghidupkan. Andai kata jika Dia berkehendak kita mati, tidak ada yang dapat menghalang-Nya. Itulah Penguasa kita. Kita akan lebih mengenali diri-Nya selagi mana kita memerhatikan Kalam-Nya. Anda ingin mengenali-Nya dengan lebih detail? Maka perhatikanlah kalam-Nya.

Dan setelah kita mengetahui dari mana kitab ini datang, ia datang dari Allah. Orang yang luhur hatinya, bersih dan cerah bashirahnya (mata hati), orang yang tunduk dan khusyu’. Pastinya mereka menumpukan perhatian terhadap apa yang diturunkan kepada mereka. Kerana mereka mengetahui, ia datang dari Tuhan yang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Besar. Tidak ada ruang bagi mereka untuk melalaikan isi al-Quran.

Inilah cara para Sahabat, generasi yang diturunkan al-Quran di zaman mereka, di depan mereka, Rasul yang mulia menyampaikan kepada mereka secara langsung. Beginilah cara mereka beragama dan bermuamalah dengan Allah. Mereka tekun mendengar al-Quran dan merendah diri. Kerana mereka tahu bahawa al-Quran adalah kalamullah dan bukan syair, bukan juga rekaan Muhammad. Tetapi ia datang dari Tuhan Pencipta diri mereka, Pencipta alam ini.

Dan kita akan selamat sebagaimana para anbiya’, Syuhada’, orang-orang yang shalih Kerana apabila kita mengenal Allah, dan dihadiri dengan Taufiq dari-Nya untuk beramal, itulah petanda keselamatan pada diri kita. Jadi tidak ada alasan untuk kita meninggalkan usaha untuk memahami al-Quran. Dan di antara Rahmat-Nya adalah mengizinkan kita mengenal al-Quran.

Footnote :
[1] Lum’atul I’tiqad oleh Ibn Qudamah, edisi terjemahan Indonesia Pokok-Pokok Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.
[2] Tadabburul Quran oleh Syaikh Shalih Fauzan, edisi terjemahan Indonesia Tadabbur al-Quran.

Rujukan :
1) Pokok-pokok Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah, Ibnu Qudamah al-Maqdisi terbitan Pustaka Sumayyah, Indonesia.
2) Tadabburul Quran, Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan terbitan Darul Qolam.


Disediakan oleh Abu Hurairah al-Atsary

012 - Antara Nilai Iman Dan Kemanusiaan

Fatwa Lajnah Da’imah Tentang Serangan Yahudi Kepada Muslim Palestina di Jalur Gaza

Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) mengeluarkan penjelasan tentang peristiwa pembunuhan, pengepungan dan pengeboman yang terjadi di Jalur Ghaza sebagai berikut:

الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. وبعد

Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) di Saudi Arabia merasa berduka cita dan merasakan sakit atas semua kezholiman, pembunuhan anak-anak, wanita dan orang-orang jompo, penghancuran kehormatan dan perusakan rumah-rumah dan tempat-tempat strategis serta pemunculan rasa takut para orang-orang umum yang menimpa saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di Jalur Ghaza secara khusus. Ini semua pasti merupakan kejahatan dan kezholiman terhadap masyarakat palestina.

Peristiwa menyedihkan ini seharusnya menjadikan kaum muslimin bersikap bersama saudara mereka orang-orang Palestina dan saling tolong-menolong bersama mereka, membantu dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kezaliman ini dari mereka dengan sebab dan sarana yang memungkinkan untuk diwujudkan untuk saudara se-islam dan se-ikatan iman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9]: 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً وشبك بين أصابعه / متفق عليه،

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan dan selaiu menjalin antara jari-jemarinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر (متفق عليه)

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih dan saying mereka seperti permisalan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يسلمه ولا يحقره (رواه مسلم(

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim)

Pertolongan ini mencakup banyak hal sesuai dengan kemampuan dan memperhatikan keadaan yang ada baik berupa materi ataupun maknawi (Spirit), baik bantuan dari umumnya kaum muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian dan lain-lainnya. Atau juga dari sisi Negara-negara Arab dan islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan tersebut kepada mereka dan bersikap benar terhadap mereka, membela permasalahan mereka di pentas, perkumpulan dan konferensi dunia dan Negara. Semua itu termasuk tolong-menolong pada kebenaran dan takwa yang diperintahkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Tolong menolonglah di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maaidah [5]: 2)

Juga di antaranya adalah memberikan nasihat dan petunjuk kepada mereka pada sesuatu yang berisi kebaikan dan kemaslahatan mereka. Di antara yang teragung dalam hal ini adalah mendoakan kebaikan kepada mereka dalam setiap waktu semoga dihilangkan cobaan dan musibah besar mereka ini. Juga semoga diberikan perbaikan keadaan mereka dan diberi taufik untuk beramal dan berkata yang benar.

Demikianlah dan kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana juga mewasiatkan kepada mereka untuk bersatu di atas kebenaran, meninggalkan perpecahan dan perselisihan serta menghilangkan kesempatan musuh yang senantiasa mencari dan terus mencarinya dengan lebih keras dalam menghancurkan dan melemahkan mereka.

Kami menganjurkan saudara-saudara kami untuk mengambil tindakan-tindakan untuk menghilangkan kezaliman di atas tanah mereka dengan keikhlasan dalam beramal karena Allah dan mengharapkan keridaan-Nya. Juga isti’anah (meminta pertolongan) dengan sabar dan shalat serta musyawarah ulama dalam semua urusan mereka. Karena itu adalah tanda taufik dan pertolongan Allah.

Sebagaimana juga kami mengajak cendekiawan dunia dan masyarakat internasional secara umum untuk melihat musibah ini dengan pandangan akal dan adil untuk memberikan hak masyarakat Palestina dan menghilangkan kezaliman darinya hingga bisa hidup dengan kehidupan yang mulia. Demikian juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua Negara dan individu yang telah berpartisipasi dalam membela dan membantu mereka.

نسأل الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلا أن يكشف الغمة عن هذه الأمة ، وأن يعز دينه ، ويعلي كلمته وأن ينصر أولياءه ، وأن يخذل أعداءه ، وأن يجعل كيدهم في نحورهم، وأن يكفي المسلمين شرهم ، إنه ولي ذلك والقادر عليه . وصلى الله وسلم على نبيا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين .

Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Majlis Ulama Besar

Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah Alu Syaikh

Riyadh, 3 Muharam 1430 H/ 31 Disember 2008 M

***

Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/flasteen/187.htm
Diterjemahkan oleh Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

Disalin dari http://muslim.or.id/manhaj-salaf/fatwa-lajnah-daimah-tentang-serangan-yahudi-kepada-muslim-palestina-di-jalur-gaza.html

011 - Pelajaran Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Siri 3)

Sebab-Sebab Perlu mengenal Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Perintah Allah Supaya Bersatu Di atas jalan yang selamat.

Allah ar-Rahman ar-Rahim telah mengkhabarkan bahawa jalan yang selamat itu hanya satu. Dan jalan yang menuju kepada kesesatan itu sangatlah banyak, sebagaimana dalam ayat-Nya.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”.(QS al-an’am 6:153)

Para ahli tafsir berkata :
“Bahawasanya ‘jalan’ yang dilarang untuk diikuti dalam ayat ini datang dalam bentuk jamak, iaitu السُّبُلَ dimaksudkan untuk menjelaskan, luas dan banyaknya jalan yang mengantarkan kepada kesesatan. Sedangkan jalan kebenaran dan petunjuk, dalam ayat ini dimufradkan (tunggal, singular) kerana memang jalan menuju kebenaran itu hanya satu dan tidak berbagi-bagi.” [1]

Perhatikan firmannya ini, هَذَا صِرَاطِي, yang bermaksud ini (هَذَا, yang merujuk kepada mufrad, iaitu kata tunggal ) jalan-Ku. Jalan Allah yang selamat itu hanya satu, dan tidak berbilang-bilang. Dan, السُّبُلَ jalan-jalan (merupakan jamak, kata ganda yang membawa bilangan yang banyak) yang membawa kepada kesesatan sangatlah banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pelajarannya kepada para sahabatnya berkaitan dengan ayat ini sebagaimana di dalam hadis berikut :

"Inilah jalan Allah yang lurus, kemudian baginda menggariskan beberapa garis disebelah kiri dan kanan garis yang lurus itu, sambil bersabda: "Inilah jalan-jalan (kesesatan). Tidak ada satu jalan pun dari jalan ini melainkan ada syaitan yang mengajak manusia untuk mengikuti jalan tersebut. Kemudian baginda membacakan surah Al-An'am ayat 153 : "Dan bahawa yang (kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)". (Hadith riwayat Ahmad; berkata Al-Arnauth: Hadith hasan, rujuk Musnad Ahmad takhrij al-Arnauth, no: 4437), Syaikh Al-albani mengatakan bahawa hadis ini Shahih dalam Shahih Dhaif Ibnu Majah)

Hal yang dimaklumi bahawa Islam di akhir zaman akan berpecah, setiap kelompok akan mengatakan merekalah yang benar. Hatta, tidak ada kelompok yang sesat mengatakan kami adalah orang yang menyelisihi al-Quran dan Sunnah. Tapi mereka mengatakan, di tangan kanan kami al-Quran, di kiri kami as-Sunnah. Namun dengan aqal yang waras, kita dapat melihat dari beberapa sisi kesesatan mereka. Contoh ajaran Rasul Melayu dan seumpamanya.

Dalam menyingkap syubhat ini. Allah telah menyatakan solusinya seperti yang telah diutarakan di atas. Dan kekasih-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

“Maka sesungguhnya, siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa` arRasyidin al-Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing dan lurus), genggamlah sunnah tersebut dengan erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan (di dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan (di dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu pasti sesat.” (Shahih : riwayat at-Tirmidzi (2676) dan Ibnu Majah (43-44). At-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

Mereka itulah yang dikatakan ahlu Sunnah Wal Jamaah, dan marilah kita sama-sama memahami hakikat sebenar ahlu sunnah, supaya kita tidak terperangkap dalam kesesatan yang kita sangka kan hidayah. Allahu a’lam

Rujukan:
[1] Hadits Iftiraqul Ummah ilaa nafiyyin wa Sab’iina Firqoh hal 67 dan 68. Dinukil dari buku Mutiara Ahlu Sunnah Wal Jamaah, karya Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramadhani.

Disediakan Oleh Abu Hurairah al-Atsary

010 - Pelajaran Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Siri 2)

Definisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Menurut Bahasa
Sunnah Menurut Bahasa diambil dari kata sanna yasinnu, yasunnu sunnan, fahuwa masnun ( فهو مسنون, يسن سنا, سن يسن)

Dan sanna al-Amru (سن الامر ) ertinya al-bayyinah ( البينة ) –menjelaskan-.

Sunnah adalah jalan dan prilaku, baik terpuji maupun yang tercela. Dan di antara sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ

Sunnguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. (Shahih : riwayat al-Bukhari no. 3197)

Yang dikatakan dengan sunnah di sini ialah mengenai jalan agama dan keduniaan.

Dan sabda beliau :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَة

Barangsiapa yang menunjukkan satu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala siapa yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang membuat satu sunnah yang buruk…(HR Muslim no.1691)

Yang dikatakan dengan sunnah di sini ialah perilaku. [Lihat kamus-kamus bahasa arab, Lisaanul Arab, Mukhtarush Shihaah, al-Qamus al-Muhith dalam bab sunnah]

Sunnah menurut Istilah.
Sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan para sahabatnya, baik ilmu, keyakinan ucapan, perbuatan maupun taqrir (diamnya beliau sebagai tanda persetujuan). Sunnah juga dimutlakkan pada sunnah-sunnah ibadah dan keyakinan-keyakinan.

Lawan kepada Sunnah adalah bid’ah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ

Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup selepas peninggalanku, maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka berpeganglah dengan sunnah ku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin al-Mahdiyin. (Shahih : riwayat Abu Daud no. 3991, at-Tirmidzi no. 2600, Ibnu Baththah dalam al-Ibanah Kubra no. 148. Syaikh Albani men-shahih kan hadis ini di dalam Shahih Targhib wa Tarhib no. 37. Shahih wa Dhaif Sunnan Abu Daud no. 4607, Shahih Wa Dhaif Sunnan Timidzi no. 2676)

Al-Jama’ah dari segi bahasa diambil dari kata الجمع iaitu menghimpun sesuatu dengan mendekatkan sebahagiannya dari sebahagian yang lain. Dikatakan jama’atuhu fajtama’a (aku menghimpun sehingga berhimpun).

Dan diambil dari kata ijtima’ (berkumpul) iaitu lawan dari kata tafaaraq (berpecah, bercerai-berai) dan lawan dari kata farquhu (berpisah).

Al-Jama’ah adalah jumlah manusia yang besar. Jamaah juga bererti segolongan manusia yang dihimpun dalam tujuan yang sama.

Al-Jama’ah adalah kaum yang berkumpul (bersepakat) dalam perkara tertentu. [sama]

Jama’ah Menurut Istilah
Jama’ah menurut istilah ialah Jama’atul Muslimin, iaitu salaf umat ini dari kalangan sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, yang bersepakat di atas al-quran dan as-Sunnah, serta berjalan di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam baik yang zahir maupun yang batin.

Allah subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada hamba-hambanya yang beriman agar berjama’ah, bersatu dan tolong menolong, serta melarang mereka bercerai berai, berselisih dan bermusuhan melalui firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, (ali-Imran 3:103)

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka (ali-Imran 105)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

Sesungguhnya millah ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 ke neraka dan satu yang ke syurga, iaitu al-Jama’ah. (Shahih : diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3981, Imam Ahmad dalam al-Musnad no. 16329, Shahih Wa Dhaif Sunnan Abu Daud no. 4597)

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ

Tetaplah berjamaah, janganlah berpecah, kerana sesungguhnya syaitan bersama orang ynag sendirian, sedangkan ia lebih jauh dari 2 orang. Barangsiapa yang meninginkan kenikmatan syurrga, maka tetaplah berjamaah. (Shahih : riwayat at-Tirmidzi no. 2091, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah no. 76, Shahih Wa Dhaif Sunnan at-Tirmidzi no.2165)

Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radiyallahu 'anhu mengatakan :

الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

Jama’ah adalah apa (siapa) yang selaras dengan kebenaran, meskipun Engkau seorang diri. (HR al-Lalikaie dalam Syarh ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah)

Jadi, Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang bepegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka, menempuh jalan mereka dengan keyakinan, ucapan dan perbuatan,serta orang-orang yang istiqamah di atas ittiba’ dan menjauhi bid’ah. Mereka tetap muncul dan diberi pertolongan hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk dan menyelisihi mereka adalah kesesatan.

[Dipetik dari Kitab Panduan ’Aqidah Lengkap Disajikan Singkat dan Padat Menurut al-Quran dan as-Sunnah Yang Shahih oleh ‘Abdullah Abdil Hamid al-Atsary]